Yang Klien Perlu Tahu Sebelum Menjalani Hipnoterapi

Artikel berikut ditulis oleh Adi W. Gunawan, guru Hipnoterapi saya. Beberapa hal yang beliau sampaikan sudah pernah saya tuliskan juga pada website saya ini. Silahkan mengikuti tulisan Pak Adi W. Gunawan berikut :-)

Saat ini kesadaran masyarakat untuk mendapat bantuan profesional guna mengatasi masalah yang berhubungan dengan pikiran, emosi, dan perilaku sudah semakin meningkat. Pemahaman akan hipnoterapi, khususnya hipnoterapi klinis, juga sudah semakin meningkat. Masyarakat sudah semakin memahami apa sebenarnya hipnoterapi klinis, apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan dengan hipnoterapi klinis.

Tentu ini adalah satu kabar yang sangat menggembirakan karena hipnoterapi klinis adalah salah satu modalitas terapi yang telah teruji secara klinis sangat efektif membantu mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan emosi dan perilaku.

Beberapa waktu lalu AWGI dihubungi oleh salah satu calon klien yang ingin menerapikan dirinya untuk mengatasi masalah kecemasan yang telah mengganggu hidupnya selama hampir dua tahun. Seperti biasa, calon klien bertanya banyak hal seputar hipnoterapi dan kami menjelaskan dan menjawab dengan detil setiap pertanyaannya.

Ada beberapa pertanyaan menarik yang kerap ditanyakan oleh calon klien. Pertanyaan ini, dari simpulan kami, muncul karena pemahaman yang kurang pas mengenai sifat dan layanan hipnoterapi secara umum.

Berikut saya berikan beberapa penjelasan penting guna menambah wawasan dan  pemahaman mengenai layanan hipnoterapi klinis yang disediakan lembaga Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology.

Saya ingin menerapikan anak/pasangan/rekan/kolega yang bermasalah. Apakah bisa?

Hipnoterapi tentu bisa membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi. Namun ada syarat penting yang perlu dipenuhi. Klien harus bersedia menjalani sesi konseling dan atau terapi atas kesadaran atau keinginannya sendiri, tidak bisa atas perintah, paksaan, ancaman, atau rayuan orang lain. Hipnoterapi tidak bisa dilakukan tanpa ijin dari klien.   

Apakah klien bisa dihipnoterapi supaya lupa seseorang atau satu pengalaman traumatiknya?

Ini adalah pertanyaan yang umum kami jumpai. Hipnoterapi tidak bisa membuat orang lupa satu kejadian. Yang bisa dilakukan adalah kami memroses emosi yang ada pada satu kejadian. Setelah emosi ini berhasil diproses klien dapat tetap mengingat kejadian itu namun tidak lagi terpengaruh. Selain itu, hipnoterapi hanya bisa dilakukan atas ijin dan keinginan klien. Tanpa ijin klien terapi tidak mungkin dan tidak akan bisa dilakukan.

Apakah hipnoterapi bisa digunakan untuk mengungkap rahasia seseorang?

Ini adalah pandangan yang salah mengenai hipnosis atau hipnoterapi, mungkin akibat sering menyaksikan acara di tv. Kami beberapa kali dihubungi suami atau istri yang minta pasangannya dihipnosis dan dicek apakah selingkuh atau tidak. Ada lagi perusahaan yang kehilangan uang dalam jumlah besar dan merasa yakin salah satu karyawannya yang mencuri uang perusahaan dan minta agar karyawan ini dihipnosis dan dicek apa benar ia mencuri atau tidak.

Ini tidak bisa dilakukan. Hipnosis hanya bisa dilakukan atas ijin klien. Bila tidak, klien bisa menolak dan berbohong karena selama dalam kondisi hipnosis klien sebenarnya sadar sepenuhnya dan tetap memegang kendali atas pikiran dan tubuhnya.

Tayangan di televisi yang lebih ditujukan untuk hiburan telah memberi “pemahaman” yang salah tentang hipnosis. Bila apa yang dilakukan di televisi itu benar, bisa mengungkap atau membongkar rahasia seseorang walau orang itu tidak bersedia, maka kita tidak perlu KPK. Cukup bawa orang yang disangka sebagai koruptor ke hipnotis yang di tv itu, minta ia menghipnosis tersangka dan dengan mudah semua rahasia akan terbuka. Dengan demikian kerja aparat penegak hukum akan menjadi sangat ringan. Sekali lagi, yang di tv itu hanya untuk hiburan dan banyak rekayasanya.

Apakah ada jaminan kesembuhan?

Hipnoterapi adalah kontrak upaya, bukan kontrak hasil. Sesuai dengan kode etik kami tidak pernah dan tidak boleh menjanjikan kesembuhan kepada klien. Sama seperti professional healer lainnya yang bekerja dengan sangat profesional seperti dokter, psikolog, psikiater, atau konselor tidak boleh memberikan janji atau jaminan kesembuhan. Kesembuhan dan keberhasilan terapi ditentukan oleh kerjasama antara klien dan terapis.
Bila dokter membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan fisik maka hipnoterapis klinis membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi atau perilaku. Dengan kata lain hipnoterapis klinis adalah “dokter” pikiran. 

Apakah ada masa garansi?

Pertanyaan ini sering membuat kami tersenyum. Klien bukan barang atau benda mati tapi adalah manusia yang sangat dinamis dan kompleks. Hipnoterapis tidak boleh memberikan garansi. Misalnya, setelah diterapi, terapis memberikan masa garansi selama, misalnya dua minggu. Bila dalam kurun waktu dua minggu ini ternyata klien masih merasa kurang nyaman maka klien bisa minta terapi lagi dengan gratis karena masih dalam masa garansi. Hipnoterapis berlaku sama seperti dokter, psikolog, psikiater, atau konselor yang tidak pernah memberikan masa garansi.

Apakah ada hipnoterapis yang memberikan garansi? Saya tidak tahu. Yang pasti, berdasar kode etik lembaga kami, pemberian garansi ini tidak boleh dan tidak profesional. 

Apakah ada atau boleh diberlakukan sistem paket?

Dalam organisasi kami tidak diperkenankan untuk memberlakukan sistem paket. Sama halnya praktik dokter, saya belum pernah bertemu atau menemukan dokter yang memberlakukan sistem paket. Misalnya, pasien sakit batuk pilek dan berobat ke dokter. Dokternya berkata, “Kalau sekali jumpa saya tarifnya Rp. 250.000. Ini ada pahe, paket hemat. Anda jumpa saya 5 kali dan saya hitung hanya Rp. 1.000.000 saja, bayar di muka.”

Aturan yang berlaku dalam organisasi kami yaitu kami meminta komitmen klien untuk menjalani terapi maksimal sampai 4 (empat) sesi. Ini hanya komitmen. Bila ternyata dalam satu atau dua sesi klien sudah merasa nyaman dan masalahnya sudah teratasi maka terapi tidak perlu diteruskan.

Komitmen ini sekaligus merupakan pesan ke pikiran bawah sadar klien untuk all out menjalani sesi terapi. Bila sampai empat sesi klien tidak berhasil dibantu mengatasi masalahnya maka terapis akan mundur dan menyarankan klien untuk minta bantuan terapis lain yang lebih kompeten.

Dari pengalaman kami, bila sampai empat sesi klien belum juga berhasil dibantu mengatasi masalahnya maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, klien tidak niat sembuh atau tidak all out. Kedua, terapisnya tidak kompeten untuk mengatasi masalah klien. Dalam situasi seperti ini tidak ada gunanya meneruskan terapi karena bila diteruskan akan tidak baik untuk klien.

Terapis, dalam setiap sesi terapi, melakukan upaya maksimal membantu klien berdasar pengetahuan dan pengalamannya. Terapis tidak diperkenankan dengan sengaja memperpanjang sesi terapi demi mendapat keuntungan finansial. 

Apakah ada diskon professional fee?

Saat ini, pertanyaan seperti ini sudah sangat jarang terjadi. Dulu, sangat sering. Ada calon klien yang menawar professional fee. Saya tidak tahu apa yang ada di benak calon klien ini saat berusaha dengan segala cara menawar fee seorang terapis. Ada yang menawar separoh, lalu karena tidak bisa, menaikkan lagi tawarannya. Klien berkata, “Di tempat lain harga terapinya cuma segini lho, masa di tempat Anda lebih mahal. Apa tidak bisa dibuat sama saja dengan yang di sana?”

Kami memandang situasi ini sebagai kesempatan emas untuk memberikan edukasi kepada calon klien. Kami selalu mengatakan bahwa hipnoterapis klinis adalah profesi yang sejajar dengan dokter, psikiater, atau profesional lain yang bergerak di bidang penyembuhan. Bila dokter membantu menyembuhkan masalah yang berhubungan dengan fisik maka hipnoterapis klinis membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan pikiran, emosi, dan perilaku.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa apa yang kami lakukan ini adalah hal yang sangat serius dan kami memperlakukan klien dan diri kami juga dengan sangat serius. Kebijakan kami yaitu fee tidak untuk ditawar. Hipnoterapis profesional menetapkan fee sesuai dengan pengalaman dan kompetensinya.

Pengalaman klinis kami menyatakan bahwa saat klien mulai menawar fee terapis, apalagi sampai minta terapi gratis, maka biasanya hasil terapi tidak akan bisa maksimal. Ada satu Bagian Diri klien yang tidak bersedia “membayar harga” untuk berubah.

Tentu, terapis juga perlu cermat dan bijak untuk tahu kondisi klien yang sesungguhnya. Untuk klien yang benar-benar tidak mampu maka, sesuai dengan kebijakan masing-masing, terapis dapat memberi potongan harga dan juga bila perlu menggratiskan layanan terapinya. Ini tentu bergantung situasi dan kondisi di lapangan. 

Kebiasaan menawar fee ini tidak berhubungan dengan status sosial ekonomi calon klien namun lebih pada mindset. Pernah ada satu rekan sejawat saya yang merasa kasihan dengan kondisi orangtua klien anak yang memang tidak mampu. Usai terapi, rekan ini menggratiskan fee-nya. Ternyata ibu dari klien ini dengan tegas berkata, “Pak, walau saya orang kurang mampu tapi saya tidak perlu dikasihani. Saya tetap akan bayar ongkos terapi. Saya mau kasih pelajaran sama anak saya bahwa semua ada harganya. Bahwa anak saya dibantu dan berubah, ini juga ada harga yang harus dibayar. Saya harap Bapak terima uang saya.”