Hypnosis = “Alat Kegelapan”?

Saya mengawalinya dengan menyalin sebuah kutipan dari Adi W. Gunawan :

“Banyak orang berpandangan kurang benar dan melakukan penghakiman terhadap hal yang sebenarnya tidak benar-benar mereka mengerti benar atau tidak benar, sehingga banyak orang terhindar dari kebenaran karena mendapat informasi yang tidak benar oleh orang yang merasa benar dan melakukan pembenaran padahal belum tentu benar.”

Informasi-informasi tentang hypnosis yang disebarkan oleh media belakangan ini sungguh membuat saya prihatin. Banyak sekali dari tayangan-tayangan tersebut lebih mengutamakan sisi ‘Hiburan’ dibandingkan dengan sisi ‘Edukatif’ yang akhirnya membawa sebuah opini publik yang jauh sekali dari kenyataan yang sebenarnya. Apa yang ditunjukkan oleh media adalaha stage hypnosis atau hipnosis untuk hiburan. Nah, karena ini untuk hiburan maka biasanya sudah disiapkan sebelumnya. Sudah diatur skenario dan alur ceritanya. Subjek atau orang yang dihipnosis itu biasanya orang yang telah dipilih dan dikondisikan terlebih dahulu. Banyak orang awam yang tidak mengetahui atau mempelajari hypnosis yang digiring pada suatu definisi yang salah tentang hypnosis. hal ini sungguh sangat disayangkan, karena jika saja mereka mengetahuinya, banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari penerapan ilmu ini.

Hypnosis adalah seni komunikasi antara operator hypnotis dan subjek hypnosis. Kemampuan komunikasi ini digunakan untuk membawa subjek masuk ke kondisi bawah sadarnya. Sama sekali tidak ada unsur kekuatan magis atau mistik yang terlibat. Jika, misalkan, benar hypnosis menggunakan kuasa gelap maka “ilmu” ini hanya bisa dipelajari dengan melakukan ritual tertentu. Saya mempelajari Hypnotheraphy dengan menghadiri 100 jam tatap muka di kelas QHI – Adi W. Gunawan Institute dan bukannya dengan menggunakan laku dan ritual tertentu. Hypnosis atau Hypnotherapy adalah salah satu cabang ilmu psikologi. Dalam salah satu situs resmi dari American Psychological Association yaitu www.apa.org dapat dilihat bahwa Hypnotherapy masuk ke Divisi 30. Semua bentuk hypnosis sejatinya adalah Self Hypnosis yang artinya jika subjek tidak mengijinkan atau menolak untuk dihipnosis maka hipnotis tidak akan bisa menghipnosis subjek. Bahkan subjek, walaupun telah masuk ke kondisi hypnosis / trance yang dalam masih tetap sadar se-sadar sadarnya dan dapat mengendalikan diri sepenuhnya. Lantas apa bedanya kondisi hipnosis ini dengan tidur? Sangat mudah sekali untuk membedakannya, yaitu kalau tidur tidak bisa memberikan respon, saat ditanya tidak bisa mendengar dan menjawab. Sedangkan dalam kondisi hipnosis, subjek tetap bisa mendengar, berpikir dan memberikan respon. Mempelajari dunia ini bagi saya pribadi adalah semakin menyadari dan melihat Ke Maha Kuasaan ALLAH. IA memberikan PROTEKSI yang dipasang di pikiran bawah sadar. Ada 4 filter pikiran bawah sadar yang selalu aktif melindungi kita. Filter mental ini adalah Filter keselamatan hidup, Filter Moral / Agama, Filter Benar / Salah, Filter Masuk Akal / Tidak.

Dengan adanya 4 filter mental diatas, maka informasi yang dimasukkan ke pikiran bawah sadar atau kalau mau lebih ekstrim dipaksakan masuk, pasti akan ditolak oleh pikiran bawah sadar bila tidak mampu melewati filter-filter tersebut. Dari sini tentunya semakin memperjelas bahwa jika informasi yang dimasukkan itu mengancam keselamatan hidup atau tidak sesuai dengan Moral (Agama) yang tertanam atau informasi tersebut tidak masuk akal sudah dapat dipastikan informasi tersebut tidak memiliki pengaruh meskipun dalam kondisi hipnosis yang sangat dalam.

Penelitian yang dilakukan oleh para pakar hipnosis menunjukkan bahwa hipnosis dapat membantu memulihkan suatu kondisi mental namun tidak bisa digunakan untuk memprogram pikiran dan mengubah kepribadian subjek. Ketakutan bahwa hipnosis mengakibatkan lupa ingatan pun tidak tepat. Justru saat subjek berada dalam kondisi trance, subjek mengalami peningkatan kemampuan mengingat yang luar biasa. Kemampuan ini disebut sebagai hypermnesia. Dave Elman seorang pakar dan tokoh penting hipnoterapi modern mengatakan bahwa saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis, kemampuan mengingatnya hingga 2.000 %.

Gereja Katolik, pada tahun 1847, pernah mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa penggunaan magnetisme hewani  (sebutan untuk hipnosis pada zaman Mesmer) sebenarnya hanyalah tindakan yang menggunakan media fisik yang secara hukum dibenarkan, dan karena itu secara moral tidak dilarang, dengan catatan penggunaannya tidak ditujukan untuk sesuatu yang melanggar hukum atau melanggar kemoralan.

The use of animal magnetism is indeed merely an act of making use of physical media that are otherwise licit and hence it is not morally forbidden, provided that it does tend towardan illicit end or toward anything depraved

** Collectanea Sanctae Congregationis de propaganda Fide, No. 1018, editioanni : 1907

Paus Pius XII, melalui pernyataan yang dipublikasikan di tahun 1956 dan 1957 (** “Hypnosis for Christians”, Mangan, J.T. (1959), “Hypnosis : A Medico-moral evaluation”, Linacre Quaterly, 26, 39.) juga dengan sangat hati-hati memberikan persetujuan terhadap penggunaan hypnosis untuk terapi. Sikap gereja Katolik terhadap hypnosis, hingga saat ini, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Hypnosis adalah pengetahuan ilmiah yang serius, dan bukan sesuatu yang dilakukan asal-asalan.
  2. Dalam pemanfaatan hipnosis secara alamiah, harus dengan memperhatikan kehati-hatian dan tanggung jawab keilmuan dan kemoralan.
  3. Pemanfaatan hipnosis untuk anestesi, mengikuti prinsip yang sama yang berlaku untuk anestesi lainnya.

 

Daniel Anugroho C.Ht – QHI